Ta’assub terhadap salah seorang guru atau golongan.
Mutiara nasehat
Syaikh Al-Utsaimin berkata: “Wajib atas penuntut ilmu untuk menghilangkan perkelompokan dan penggolongan dengan mengikat Wala’ (loyalitas) dan Baro’ (berlapas diri) kepada suatu kelompok atau suatu golongan. Hal ini tanpa diragukan merupakan perkara yang menyelisihi manhaj Salaf, karena salaf tidak berkempok-kelompok akan tetapi mereka adalah kelompok yang satu. Mereka berjalan di bawah firman Allah Ta’ala “Dia (Allah) telah menamai kalian semuanya dengan orang-orang muslim dari dahulu.” (Al-Haj:78) Maka tidak ada penggolongan, pengkotakkan, Wala’, dan Baro’ kecuali dengan apa-apa yang datang dari Rasulullah.
Sebagian orang bergabung dengan suatu golongan, kemudian ia mengokohkan pendapat kelompok tersebut, berdalih dengan dalil-dalil mereka walaupun terkadang dalil tersebut merupakan bantahan terhadap mereka sendiri.
Ia juga membela golongan itu dengan mati-matian, ia sesatkan setiap orang yang menyelihinya dengan menggunakan kaedah ‘Siapa yang tidak bergabung denganku maka ia adalah musuhku’. Sungguh dalam islam ini tidak ada pengelompokan, sehingga ketika terjadi pengkotakan dan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin sampai tingkat saling menyesatkan dan mengghibah saudaranya, mereka ditimpa kehancuran sebagai mana Allah berfirman : “Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian berbantah-bantahan (bercerai berai) yang menyebabkan kalian menjadi gentar (porak poranda) dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)
Dan kita juga mendapatkan sebagian penuntut ilmu, mereka belajar kepada seorang atau beberapa syaikh, kemudian ia membela syaikh tersebut baik dengan dalil yang benar ataupun batil. Kemudian ia juga membenci, menyesatkan dan membid’ahkan orang-orang yang menyelisihi syaikhnya, dan ia melihat bahwa syaikhnya adalah seorang yang pandai dan yang memperbaiki, sedangkan yang lainnya merupakan orang yang bodoh atau orang yang merusak. Ini semua adalah kesalahan yang fatal, dan yang wajib atas setiap orang untuk mengambil setiap perkatan yang benar dan sesuai dengan Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman para sahabat dari siapapun orangnya”.
(Kitabul Ilmi:80-81)
Comments
Post a Comment